Rabu, 04 Juli 2012

Mengapa Kita?

Mengapa Kita?
Mudji Sutrisno ; Guru Besar STF Driyarkara dan Universitas Indonesia; Budayawan
SINDO, 05 Juli 2012


Ada dua sekolah pemikiran yang menegaskan mengenai kehidupan kita. Yang pertama, hidup itu sebuah perjalanan perubahan. Perubahanlah, dengan dinamikanya, inti pokok kehidupan.

Konsekuensinya, Anda harus siap sikap mental untuk dari dalam, siap menghadapi perubahan. Bila tidak, akan tergusur oleh perubahan itu. Sekolah yang kedua mengatakan bahwa hidup itu kemapanan, sebuah pencarian untuk berhenti pada sebuah kepastian rumah,terminal perjalanan, dan ”rumah stabilitas” yang memastikan perantauan lalu menetap tinggal di sana.

Sekolah pertama, dalam pemikiran Yunani kuno, sudah dimulai oleh pendapat Parmenides bahwa ”kehidupan itu seperti air mengalir terus (pantha rei)”. Perubahanlah jati kehidupan. Lalu pada pemikiran modern kontinental oleh Hegel dipuncakkan perjalanan perubahan itu dengan dasar perjalanan ”sejarah” sebagai semakin memuncaknya kesadaran budi manusia, alam dan universal yang di dalamnya bergerak dalam proses menyadarnya terus Roh kebenaran.

Namun, dari dua sekolah itu sesungguhnya cara pandang kehidupan sebagai sebuah proses mampu merangkul titiktitik ekstrem antara ”yang mapan, yang tetap” sebagai tonggak serta ”yang berubah itulah inti hidup”. Pandangan hidup sebagai proses menengahinya dengan cara pikir refleksif yang menegaskan kita semua selalu mampu melihat titik ”perubahan” sekaligus ”titik tetap”-nya.

Dalam contoh antara kesamaan identitas dan pembedaan (difference), misalnya, sebuah proses kehidupan dengan akal sehat normal akan mudah menunjuk bahwa ”kita” sekaligus bayi manusia yang lahir pada tanggal tertentu dan terus berkembang menjadi dewasa serta berubah seperti sekarang di umur tertentu ini, merupakan ”manusia yang sama” yang sedang menjalani kehidupan ini. Si ”aku” sekaligus sama antara ”aku masa lalu”, dan masa kini sebagai tetap ”aku”namun berubah pula dari perubahan fisik, pemikiran, psikis kedewasaan menjadi seperti aku ini.

Mengapa antara ”yang tetap” dan ”yang berubah” kita jernihkan dulu dalam tulisan ini? Karena terjadi perubahan cara pandang dan cara menyikapi hidup serta cara merenunginya dalam ranah nilai yang suci, yang baik dan yang indah, ketika kita berjalan “membangsa” Indonesia ini. Dengan pencermatan jernih itu diharapkan kita menjadi tajam sadar diri mana yang berubah kulit-kulit saja dan mana yang sebenarnya tetap merupakan benang merah jati identitas kita.

Gejala

Ada sederet gejala penyikapan kita yang menjadi batu uji ”mengapa kita?” saat ini. Gejala pertama, dalam ujian nasional SD tahun 2012 para murid yang ujian diajak menulis dan menjawab dengan jujur ujiannya. Seorang guru yang berdedikasi menulis di koran nasional, bahwa ajakan normatif ini bagus karena mengajak anak-anak kita sejak SD jujur, tidak mencontek dalam ujian.

Sang guru itu lalu menggugat kita semua dengan pertanyaan dan ajakan yang sama agar setiap kita mulai dari pejabat, anggota DPR, profesional, presiden dan semua ”melakukan yang sama, yaitu mau jujur dalam menjalankan tugas dan amanah kepejabatan kita”. Berikutnya,ada gugatan lebih tajam dan memilukan, yaitu bagaimana anak-anak SD ini akan terus bisa jujur bila contoh-contoh dari mereka yang dewasa setiap hari banyak yang bohong dan tidak jujur?

Dari pokok pertama ini, saya mau menuliskan bahwa, ”mengapa kita selalu dengan mudah menganjurkan orang-orang lain lebih dulu untuk tindakan dan laku moral jujur? Mengapa anakanak dulu kita minta, sementara bukankah seharusnya mulai dari ”diri sendiri” lebih dulu untuk berperilaku jujur? Maka benarlah pepatah klasik yang menyeru: Medice Curate Ipsum: Hai dokter-dokter atau tabib-tabib, obati dan rawatlah penyakitmu lebih dulu; obati dirimu hingga sehat lebih dulu sebelum mengobati orang lain.

Mengapa kita? Gejala kedua, kita masih menjadi bangsa berwatak membuat ”upacara meriah” dan membuat ”papan nama” rencana dan kemudian setelah pesta upacara selesai tindakan konkret tidak muncul. Artinya, kita tetap tinggal di tempat, mapan dalam apa yang disebut oleh ilmu manajemen dagang sebagai business as usual atau dalam bahasa psikologis dinamai zona nyaman (comfort zone).

Akibatnya, berderet-deretlah papan-papan nama di kantor kabupaten, gubernur, nama-nama organisasi atau kegiatan. Namun, yang diam-diam tanpa nama jauh dari liputan citraan media atau televisi mau terus bekerja melayani, mengabdi demi kesejahteraan, meski banyak yang melakukan ini, tetapi kalah oleh gejala kedua tadi. Gejala ketiga, karena imitasi dengan mereka yang di pusat kuasa yang juga menampilkan kinerja kementerian dan departemen lebih dengan cara tampilan profil ideal citra dan buka dengan kerja nyata di lapangan.

Paling nyata adalah rusaknya jalan-jalan sebagai infrastruktur di kota-kota Jawa, apalagi di luar Jawa. Itu sudah banyak disorot media, namun ke mana perbaikannya dan siapa paling bertanggung jawab pada ini semua? Sampai-sampai ada judul besar bahwa perbaikan jalan proyek abadi pantura sebelum Lebaran. Gejala keempat, kita ini amat suka mengganti nama instansi dan mengganti logo begitu seseorang menggantikan kedudukan sesamanya di jajaran pimpinan.

Gejala ini langsung menunjukkan betapa terjadi keterputusan dalam proses menanggungjawabi kelanjutan apa yang sudah baik yang dirintis pejabat sebelumnya untuk diteruskan. Maka benarlah pemikir sekaligus psikolog kehidupan, Viktor E Frankl, menunjukkan bahwa dalam diri manusia dorongan hidup atau hasrat atau will itu ada tiga. Hasrat untuk berkuasa (will to power), hasrat untuk menikmati hidup (will to pleasure), dan hasrat untuk memberi arti dan makna pada kehidupan (will to significances).

Gejala kelima, konstruksi cara pikir dan kerja serta cara pandang lebih berpijak dari pusat ke daerah daripada mau berkotor-kotor menyerap dan hidup bersama mendengarkan yang benar-benar dialami sebagai kesulitan-kesulitan di lapangan.Karena itulah gejala ini tampil mencolok mata kita dalam ungkapan kunjungan tamu pusat dengan rombongan yang jauh panggang dari asapnya kalau ditanyai hasil pembelajarannya daripada resmi-resmian serta memakan ongkos. Kalaupun dilakukan inspeksi mendadak atau langsung turun ke bawah itu pun tetap diupacarakan.

Mengapa data-data rekan-rekan peneliti di Kementerian, LIPI, maupun LSM lapangan tidak diikutkan dan dipakai untuk soal ini? Namun keterputusan itu membuat orang bertanya, mengapa di tempat kita, kasus tanah dan pertambangan serta hak-hak tanah ulayat selalu dalam perkelahian untuk penguasaan tanah dan hutan bukan demi kesejahteraan rakyat setempat? Keuntungan itu hanya untuk perusahaan-perusahaan besar yang dengan logistik dan keuangannya mampu mengamankan kebun atau tanah tambang dengan aparat.

Sementara aparat itu berhadapan langsung dengan petani atau rakyat setempat yang berakhir setiap kali dengan kekerasan berdarah dan hilangnya nyawa saudara kita. Mengapa kita? Mengapa kita tidak bertolak dari kearifan lokal dengan kebijaksanaan pepatah dan peribahasa yang sudah diuji zaman dan tetap ”bermakna emas” dalam perubahan waktu? Yang rajin menanam dan menanam banyak akan mendapatkan hasil yang banyak pula.

Bukankah ini peribahasa kearifan tanah agraris budaya tanah megalitikum daratan? Yang bersekutu rukun dengan pepatah berakit-rakit ke hulu berenangrenang kemudian. Bersakitsakit dulu bersenang-senang kemudian? Mengapa kita? Masih bisakah kita berpantun-pantun dan berpepatah peribahasa yang menampilkan Indonesia adalah tanah dan air bila tanahnya dihancurkan dan airnya tidak ada lagi? Siapakah kita dan mengapa kita ini?

Menafsir Perubahan

Perjalanan “membangsa” kita yang jatuh bangun sudah didasari oleh perekat nilai berbangsa majemuk dalam religiositas pengakuan dan pemuliaan proses hidup pada Yang Suci, Yang Ilahi, dalam sila pertama Pancasila. Juga relasi kebersamaan sebangsa yang majemuk dan beda-beda suku,agama,sudah dirajut untuk dihayati dalam memperlakukan secara adil dan berkeadaban manusiawi sesama saudara sebangsa yang menyatu dalam sila persatuan dan keadilan.

Bila itu semua diresapi dan diamalkan maka sesungguhnya refleksi mengenaipertanyaan‘ mengapa kita?’ menjadi pekerjaan rumah penentu kelanjutan berbangsa dan bernegara kita semua. Kita adalah sama dengan identitas bangsa Indonesia yang majemuk. Kita pula yang dalam proses menyejarah sedang melangkah terus ke depan untuk lebih sejahtera sebagai warga-warga negara dan lebih berharkat dalam tata gaul internasional kita yang harus terus menyikapi bahwa hidup ini terus pula berubah.

Kekeliruan menafsir perubahan hanya sebagai pembangunan fisik ekonomis sudah jelas membuat kita menomorsatukan materi dan uang di atas yang ‘roh’ atau yang imaterial. Kesempitan menafsir perubahan sejarah hanya dalam politik reduksionis kekusaan tanpa moralitas pelayanan demi kesejahteraan yang diwakili dalam demokrasi sudah langsung membuat krisis ketidakpercayaan pada para wakil di setiap pemilu.

Lalu ke mana jawaban pekerjaan rumah mengapa kita harus direnungi? Di ranah kita sebagai bangsa sejak saat menghayati jujur dalam tindak dan contoh hidup untuk anak cucu mengenai yang baik,yang benar, yang suci dari kehidupan kita ini. Bukankah seni-seni dan kearifan Nusantara telah lama menghayati bahwa memuliakan dan merayakan kehidupan merupakan tugas anak-anak negeri tercintanya dalam tanah air yang dari Nusantara ditransformasikan ke dalam perubahan kultural nilai menjadi Indonesia?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar