Kamis, 14 Juni 2012

Wajib Belajar 12 Tahun


Wajib Belajar 12 Tahun
Syamsul Bachri ; Ketua Panja DPR Wajar 12 Tahun
Sumber :  SUARA KARYA, 14 Juni 2012


Sejak dicanangkan tahun 2004, program wajib belajar (Wajar) 9 tahun mampu memberikan makna yang berarti bagi anak bangsa. Kalau ada yang tidak memanfaatkan program ini, hal itu merupakan kelalaian orangtua. Bahwa pendidikan dasar adalah kebutuhan dasar. Tanpa pendidikan dasar, masyarakat akan tergolong primitif dan sulit maju.

Yang jelas, Wajar 9 tahun perlu dioptimalisasi, seperti menyangkut penyediaan ruang kelas, sarana, dan prasarana sekolah serta kualitas guru dan pendidik. Selama ini, program ini baru mengarah ke peningkatan kesejahteraan guru, belum ke peningkatan kualitas kinerja guru. Padahal, sertifikasi idealnya harus mampu menyejahterakan sekaligus dapat mendorong guru lebih berkualitas.

Meski sudah dicanangkan Wajar 9 tahun, namun indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia ternyata masih rendah. Dari laporan UNDP, IPM kita berada di urutan ke-124 dari 197 negara. Artinya, kondisi bangsa Indonesia diukur dari kesehatan, pendapatan, dan pendidikan, masih memprihatinkan.

Dari indeks pendidikan, rata-rata belajar anak-anak Indonesia baru 7,2 tahun (2004) dan sekarang naik 7,9 tahun (2011). Jadi, Wajar 9 tahun sedikit sekali mendorong durasi belajar anak-anak Indonesia makin lama. Padahal, makin lama sekolah, makin baik. Sebaliknya, makin cepat sekolah, makin rendah putus sekolah, hingga mungkin terpaksa hanya sampai SD atau SMP. Padahal, kita ingin lama agar sekolah terus meningkat. Sebagai gambaran, indeks pendidikan di Singapura sudah di atas 10 tahun.

Pemerintah sependapat bahwa mulai 2012, rintisan Wajar 12 tahun harus sudah dimulai. 
Sedangkan mulai 2013, Wajar 12 tahun bukan lagi sekadar rintisan, tapi sudah harus diimplementasikan secara penuh. Artinya, anak-anak Indonesia kini berkesempatan dapat mengenyam pendidikan gratis sampai SMA. Namun, secara nasional, penerapan Wajar 12 tahun secara penuh baru akan dilakukan tahun 2013.

Dari data yang ada, anak-anak SMA jumlahnya 9,5 juta. Kalau untuk program Wajar 12 tahun, setiap anak dianggarkan Rp 1 juta, maka dibutuhkan anggaran hingga Rp 9,5 triliun. Ini bisa diambil dari 20 persen anggaran APBN yang dialokasikan Rp 300 triliun. Komisi X DPR sepakat memberikan dukungan terhadap anggaran yang dibutuhkan.
Yang jelas, warga masyarakat perlu siap-siap memanfaatkan Wajar 12 tahun ini. Begitu selesai SMP, mereka masih bisa belajar gratis sampai SMA. Kalau anak-anak kita bisa belajar sampai 12 tahun, ke depan lama sekolah anak Indonesia praktis akan meningkat. 
Masalahnya, sudah sejauh mana pemerintah menyiapkan infrastruktur sekolah SMA, SMK, dan aliyah untuk mendorong program Wajar 12 tahun?

Kelak kalau program Wajar 12 tahun berhasil, UU Perguruan Tinggi (PT) akan mengatur pembebasan untuk membayar UMPTN. Anak-anak Indonesia akan dibebaskan dari uji seleksi masuk PT. Kemudian, calon mahasiswa yang dinyatakan lulus SMPTN wajib diterima di PTN bersangkutan, tanpa hambatan "tidak ada uang".

Jadi, calon mahasiswa bebas dari biaya testing, dan kalau lulus wajib diterima di PTN. Kalau sudah masuk jadi mahasiswa, lalu ada hambatan ekonomi, tidak boleh dikeluarkan dari PTN. Pihak PTN justru harus mencari cara agar mahasiswa tidak drop out, entah lewat beasiswa, pinjaman lunak dan lain-lain.

Wajar 9 tahun menjadi Wajar 12 tahun memungkinkan anak mendapatkan kemudahan masuk PT. Inilah obsesi Komisi X DPR dalam upaya mendorong anak-anak bangsa agar maju.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar