Jumat, 22 Juni 2012

Aksentuasi Gerakan Dakwah Muhammadiyah


Aksentuasi Gerakan Dakwah Muhammadiyah
Asep Purnama Bahtiar ;  Kepala Pusat Studi Muhammadiyah dan Perubahan Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Sumber :  KORAN TEMPO, 22 Juni 2012


Sidang Tanwir organisasi Muhammadiyah yang diadakan di Bandung, 21-24 Juni 2012, yang bertemakan "Gerakan Pencerahan Solusi untuk Bangsa", sangat strategis, setidaknya karena dua hal. Pertama, menjadi forum konsolidasi internal persyarikatan dan evaluasi program periodik lima tahun (2010-2015) serta program jangka panjang (2005-2025). Kedua, sebagai momentum bagi aksentuasi (pengutamaan dan penitikberatan) gerakan dakwah Muhammadiyah di tengah realitas Indonesia yang majemuk dengan segala problematik dan dinamikanya.

Dalam konteks Indonesia "yang sedang berubah", Muhammadiyah sudah mendesak dilakukannya langkah implementatif dan sistemik dari seluruh kebijakan serta program strategisnya sebagai produk muktamar ke-46 di Yogyakarta (2010). Upaya ini, di samping untuk membuktikan semangat pembaruan yang menjadi watak gerakan Muhammadiyah, guna mempertahankan tradisi bermuhammadiyah yang senantiasa berusaha keras membumikan gagasan besar dan merealisasi misi serta program persyarikatan bagi kemaslahatan publik dan kemajuan bersama. Inilah sesungguhnya yang menjadi bagian penting dari aksentuasi gerakan dakwah Muhammadiyah dewasa ini.

Dimensi Dakwah

Dalam perspektif teologis, dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (QS Yusuf: 108), yaitu jalan menuju Islam (QS Ali Imran: 19). Strategi dan implementasi dakwah mesti mempertimbangkan tiga dimensi yang berkaitan: dimensi kerisalahan (QS Al-Maidah: 67), dimensi kerahmatan (QS Al-Anbiya: 107), dan dimensi kesejarahan (QS Al-Hasyr: 18).

Dengan tiga dimensi tersebut, dakwah merupakan upaya menyampaikan ajaran Islam dan menyebarkan nilai kebajikannya untuk kelayakan hidup manusia hingga bisa menyejarah, kini dan kelak. Karena itu, selain mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar merespons risalah Islamiyah, dakwah bermakna kontinu agar mengamalkan ajaran Islam atau merealisasi pesan dan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Dakwah dalam konteks ini juga dapat bermakna membangun kualitas sumber daya manusia, mengentaskan masyarakat miskin, serta memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Dakwah juga bisa berarti menyebarluaskan rahmat Allah (rahmatan lil'alamin). Dengan pembebasan, pembangunan, dan penyebarluasan ajaran Islam, berarti dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan masyarakat dari kehidupan yang tidak islami menjadi suatu kehidupan yang islami (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2004: 21).

Perlu digarisbawahi, dakwah telah menjadi bagian dari identitas Muhammadiyah sejak awal berdirinya sampai sekarang dan selanjutnya. Dalam usianya yang sudah memasuki abad kedua, Muhammadiyah harus terus berupaya melakukan aktualisasi serta kontekstualisasi dakwah dalam kehidupan umat dan bangsa untuk membangun peradaban utama. Sikap ini diambil atas dorongan kesadaran bahwa selama ini, selain banyak keberhasilan dan kisah sukses yang telah diukir oleh Muhammadiyah, masih ada kekurangan serta kelemahan yang harus segera dibenahi dalam gerakan dakwahnya.

Dalam realitas yang kompleks di Tanah Air, kita perlu bersikap apresiatif terhadap dinamika serta kinerja gerakan dakwah Muhammadiyah dalam berbagai aspek kehidupan umat dan bangsa. Apresiasi ini penting ditindaklanjuti dengan sikap korektif atas kelemahan dan kekurangannya selama ini dalam upaya membangun peradaban utama serta mewujudkan maksud dan tujuannya di bumi Indonesia.

Peradaban utama adalah peradaban masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Peradaban utama tersebut merupakan suatu peradaban Khaira Ummah (umat terbaik, umat pilihan) sebagai manifestasi obyektif atau obyektivikasi dari kehidupan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang tumbuh dan berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peradaban utama yang lahir dari gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah di bumi Indonesia tersebut dalam perkembangan yang lebih luas dapat menyinari kehidupan umat manusia secara universal, sebagai mata rantai dari misi kerisalahan atau gerakan Islam yang dibawa dan disebarluaskan Muhammadiyah untuk mewujudkan Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin di muka bumi.

Karena itu, sidang di Bandung perlu membuktikan kembali adanya komitmen dan semangat bermuhammadiyah yang harus terus dijaga agar persyarikatan ini bisa terus laju dan maju dalam gerakan dakwahnya. Komitmen dan spirit ini penting untuk merespons globalisasi serta menyikapi problematik kebangsaan dan persoalan kemanusiaan ataupun memperteguh identitas gerakan Muhammadiyah. Elan vital gerakan tersebut berhulu pada pandangan keagamaan khas Muhammadiyah, iman dan kemajuan, yang senantiasa diupayakan bermuara bagi keutamaan peradaban serta terjelma dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia yang bermartabat.

Itulah modal penting bagi Muhammadiyah untuk mewujudkan aksentuasi gerakan dakwahnya. Masalah dan tantangan dakwah yang semakin beragam ternyata menyediakan ruang dakwah baru yang menuntut kreativitas dan inovasi dari ormas Islam yang sudah menapaki abad kedua ini. Munculnya kelas sosial baru dengan gaya hidup transisinya, terutama di perkotaan dan sub-urban, membutuhkan sentuhan dan strategi dakwah yang pas serta tepat. Begitu pula merebaknya kasus dan problem sosial-politik-ekonomi-budaya yang kian rumit (seperti pembodohan massa, komodifikasi agama, nasib buruh migran, eksploitasi tenaga kerja anak, perdagangan manusia, konflik tanah adat, konflik petani dan pemodal besar, kemiskinan kultural dan struktural, praktek korupsi yang semakin menggila, serta manipulasi kekuasaan) merupakan arena bagi aksentuasi gerakan dakwah Muhammadiyah.

Keniscayaan tersebut tidak bisa dinafikan, karena Muhammadiyah dan bangsa Indonesia bukan lagi sedang berhadapan dengan globalisasi, tapi sudah masuk dalam pusarannya. Permasalahan serta tantangan dakwah di era globalisasi ini harus disikapi secara kritis dan bijak. Bukan isolasi diri dan penolakan tanpa alternatif yang harus dikedepankan, tapi respons kritis serta sikap proaktif menjadi alternatif yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah dalam merealisasi aksentuasi gerakan dakwahnya di zaman kesejagatan ini.

Dalam konteks inilah, pembaruan paradigma dakwah Muhammadiyah berikut model dan strateginya menjadi agenda mendesak untuk segera dirumuskan secara matang. Sebuah aksentuasi gerakan dakwah dengan empat pilar yang sinergis: transendensi, emansipasi/liberasi, humanisasi, dan obyektivikasi. Semangat pembaruan ini juga menjadi bagian dari gerakan tajdid Muhammadiyah yang selalu mengarah pada kemajuan dengan dasar pijakan iman yang otentik.

Dalam kesadaran tersebut, aksentuasi gerakan dakwah Muhammadiyah tidak bisa ditunda dan ditawar lagi. Aksentuasi ini setidaknya untuk memotret ulang peta dan gerakan dakwah Muhammadiyah selama satu abad ini, kemudian diorientasikan ke dalam konteks dakwah di era globalisasi yang lebih produktif dan solutif untuk isu-isu kebangsaan. Pembaruan paradigma, model, dan strategi gerakan dakwah Muhammadiyah sudah pasti harus dibangun serta ditata secara utuh dan feasible, yang kemudian bisa memperkaya gagasan yang implementatif bagi Muhammadiyah di masa mendatang. ●

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar