Kamis, 03 Mei 2012

Tradisi Lompat Batu Suku Nias


Tradisi lompat batu suku Nias, atau yang biasa disebut fahombo batu adalah tradisi asli suku Nias yang sudah dikenal di Indonesia maupun mancanegara. Namun, tradisi lompat batu ini tidak terdapat di semua kepulauan Nias. Fahombo batu ini hanya bisa ditemukan di kepulauan Nias bagian Selatan, tepatnya di bagian Teluk Dalam dan hanya dilakukan oleh laki – laki. Awalnya tradisi ini untuk berlatih perang para pemuda suku Nias dikarenakan nenek moyang terdahulu sering berperang antarsuku. Jika ada seorang pemuda yang berhasil melewati batu ini sang pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya ketika ada konflik dengan warga desa lain.
Kemampuan melompat batu dihubungkan dengan kepercayaan lama. Seseorang yang baru belajar melompat batu, ia terlebih dahulu memohon restu dan meniati roh-roh para pelompat batu yang telah meninggal. Ia harus memohon izin kepada arwah para leluhur yang sering melompati batu tersebut. Tujuanya untuk menghindari kecelakaan atau bencana bagi para pelompat ketika sedang mengudara, lalu menjatuhkan diri ke tanah. Sebab banyak juga pelompat yang gagal dan mendapat kecelakaan.
Ketinggian batu ini mencapai 2 meter dengan ketebalan 40 cm. Tradisi ini menjadi ajang kesempatan untuk pemuda Nias membuktikan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa dan matang secara fisik. Pemuda yang ingin melakukan Fahombo batu ini diharuskan memakai pakaian adat setempat.
Para pemuda masyarakat suku Nias berfikir bahwa lompat batu ini sangat berharga. Maka dari itu jika sang pemuda berhasil melompati batu pada kali pertama bukan saja menjadi kebanggaan dirinya sendiri tapi juga bagi keluarganya. Biasanya jika ada pemuda yang baru pertama kali mampu melompati batu ini keluarga mereka akan menyembelih beberapa ekor ternak sebagai wujud syukur atas keberhasilan anaknya
Diperlukan latihan yang cukup jika pemuda suku Nias ingin melakukan Fahombo batu. Biasanya pada umur 7-12 tahun atau sesuai dengan pertumbuhannya, anak laki-laki biasanya bermain dengan lompat tali. Uniknya, meski sudah latihan keras tidak semua pemuda pada akhirnya berhasil melakukan lompatan tersebut.
Kemudian, kenapa pemuda yang mampu melompati batu ini akan dipilih menjadi ksatria kampungnya? Karena ketika terjadi peperangan antar kampung maka para prajurit yang menyerang harus mempunyai keahlian melompat untuk menyelamatkan diri. Mengingat di setiap kampung wilayah Teluk Dalam rata-rata dikelilingi oleh pagar dan benteng desa.
Oleh karena itu ketika tradisi berburu kepala orang atau dalam sebutan mereka mangaih’g dijalankan, mereka ketika melarikan diri harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah dibangun dari batu, bambu atau dari pohon supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Itu juga sebabnya desa-desa didirikan di atas bukit atau gunung supaya musuh tidak gampang masuk dan tidak cepat melarikan diri.
Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di desanya. Ketika mereka tiba di kampung, dekat gerbang desa yang dinamakan ‘bawagöli,’ mereka berarak dan berteriak menyanyikan lagu kemenangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar