Selasa, 01 Mei 2012

RUWATAN SUDAH ADA DI ZAMAN MAJAPAHIT


TRADISI RUWATAN

RUWATAN SUDAH ADA DI ZAMAN MAJAPAHIT


Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat multikultur dimana memiliki banyak suku bangsa yang terbentang mulai dari Sabang hingga Merauke.  Setiap suku yang ada memiliki adat istiadat, tradisi yang diturunkan secara turun-temurun kepada generasi penerusnya dan dimana setiapnya juga memiliki kekhasan tersendiri yang sekaligus sebagai identitasnya.  Tradisi ataupun adat istiadat yang ada menyimpan berbagai pesan moral dan sekaligus memiliki norma-norma sebagai suatu kontrol sosial. 
Masyarakat suku bangsa Jawa adalah salah satu dari banyaknya suku bangsa yang ada di Indonesia yang juga memiliki banyak tradisi.  Terdapat suatu tradisi menarik yang dimiliki oleh suku bangsa Jawa terkait dengan rituspurification atau pemurnian kembali yakni upacara ruwatan.  Ruwatan sendiri berasal dari kata “ngruwat” yang berarti lepas atau melepas.  Upacara ruwatan sendiri berarti melepas, membebaskan atau menolak balak/malapetaka yang datang atau menimpa pada diri atau sekelompok orang untuk kembali kepada kondisi yang murni atau bersih. 
Jika dirunut ke belakang, tradisi ruwatan ini sudah ada sejak jaman kerajaan majapahit yakni sekitar 1293-1500 M.  Ini terbukti dengan adanya relief pada beberapa candi peninggalan kerajaan tersebut seperti  yang terdapat pada candi Tegalwangi, Kediri dan juga candi Sukuh di Surakarta.  Pada relief candi-candi tersebut diceritakan mengenai upacara untuk membebaskan dari malapetaka dan kemudian tradisi itu turun menurun hingga sekarang.  Itu terjadi ketika pada masa Majapahit, karena pada masa itu menurut teori Van Person mengenai konsep perubahan budaya, pola pikir mereka berada pada tahap mitis. Konsep perubahan budaya menurut Van Peurson terdiri dari tiga tahapan, yaitu: pertama adalah tahap Mitis (Tradisional), dimana tahapan awal dari kebudayaan manusia. Menurut Van Peurson, pada tahap ini budaya atau pola pikir dan perilaku manusia masih berorientasi pada kosmos atau alam. Budaya yang ada masih dipengaruhi oleh alam sekitar atau lingkungan tempat tinggal manusia. Alam menjadi faktor utama dalam semua budaya manusia.  Kedua adalah tahap Ontologis (Modern) yaitu pada tahap ini, budaya mengalami perubahan dengan menjadikan logika sebagai dasar dari pola pikir dan perilaku manusia. Semua yang dilakukan manusia telah dipikirkan secara matang dan dapat diterima oleh akal sehat. Pada tahap ini alam sudah tidak terlalu berpengaruh pada budaya manusia. Mereka mulai meninggalkan kegiatan-kegiatan atau budaya yang bersifat kosmos.  Dan yang ketiga adalah tahapan fungsional (Postmodern), pada tahap ini, manusia sudah mengalami kejenuhan pada suatu bentuk budaya sehingga menyebabkan menurunnya nilai-nilai humaniora atau kemanusiaan. Manusia berpola pikir dan berperilaku sesuka hatinya.
Pada zaman yang bisa dibilang modern seperti sekarang ini, tradisi ruwatan masih tetap eksist dan masih banyak orang yang melakukan tradisi ini.  Masyarakat Jawa masih mempercayai tradisi ruwatan untuk “tolak bala” agar mereka terhindar dari malapetaka.  Dalam kepercayaan masyarakat Jawa terdapat individu tertentu yang dilahirkan dalam waktu dan keadaan tertentu yang dipercaya sebagai mangsa sang “bathara kala”.  Terdapat tujuh jenis atau istilah dalam kelahiran seseorang yang menyebabkan orang itu termasuk dalam golongan orang yang perlu untuk di ruwat.  Ketujuh golongan tersebut adalah, ontang-anting yakni anak tunggal tanpa memiliki saudara kandung sejak lahir.  Kedana-kedini yaitu keluarga memiliki 2 anak,laki-laki dan perempuan saja.  Julung wangi ( anak yang lahir pada saat matahari terbit), Julung pujud (anak yang lahir bersamaan dengan terbenamnya matahari), kemudian margana (anak yang lahir di perjalanan). 
Selain itu ada lagi yang disebut dengan dampit yaitu anak yang lahir kembar laki-laki dan peremuan yang berasal dari satu rahim. Terakhir adalahcondang-kasih yaitu anak yang lahir kembar tetapi berbeda warna kulit, yang satu berkulit hitam dan yang satu berkulit putih. Dalam ruwatan biasanya yang dipimpin oleh seorang dalang dimana dalang yang dipilih adalah dalang yang sudah cukup tua, hal ini dimaksudkan karena telah banyak atau kaya akan pengalaman dalam memimpin suatu ruatan yang memiliki nilai yang sakral.  Dalam pemilihan waktu ruwatan pun bukanlah sembarangan, telah ditentukan hari dan tanggalnya sesuai dengan perhitungan kalender jawa dan diperlukan sesajen dalam proses ruwatan tersebut. Perlu diingat bahwa ketika berbicara mengenai ritus atau upacara selalu terkait dengan 4(empat) hal yakni; alat, tempat, waktu dan pelaku.  Sebagai puncak acaranya biasanya diadakan pagelaran wayang kulit dengan lakon mengenai batara kala.       
Pada kepercayaan masyarakat Jawa ada juga ruwatan yang dilakukan dengan cara lain yang lebih simple yakni seperti dengan melakukan mencukur rambut, menaruh beras di lesung, membakar rambut.  Itu semua dilakukan ketika masyarakat telah melakukan hal yang dianggap kurang baik, atau mendapatkan mimpi buruk ketika tidur agar tidak terjadi dalam kehidupan nyata.  Masih banyak lagi cara yang dilakukan dalam kepercayaan masyarakat Jawa untuk menghilangkan atau membebaskan diri dari batara kala.  Terlepas anda percaya atau tidak, itu semua adalah salah satu warisan budaya leluhur yang adiluhung dan agar tidak tergerus oleh zaman maka harus tetap dijaga kelestariannya.  [GAW]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar