Kamis, 26 April 2012

Pencarian Jati Diri




Ada seorang teman yang bertanya, bagaimana caranya untuk memulai mencari jati diri? Mencari jati diri memiliki arti umum mengenali siapa sebenarnya diri kita pribadi. Tetapi pencarian jati diri secara khusus memiliki arti yang dalam yaitu proses pencarian Urip (hidup) yang ada dalam diri pribadi kita sendiri.

Proses pencarian tersebut, jika kita sudah tahu hakekat kenapa kita hidup, maka pertanyaan tidak akan berhenti sampai di situ saja. Pertanyaan akan semakin mendalam, apa saja yang menjadikan kita manusia hidup? Dan ujung-ujungnya adalah pertanyaan siapa yang menghidupi kita?

Dari serangkaian pertanyaan yang mendalam tersebut akan berujung pada GUSTI ALLAH. Ketika setiap pertanyaan tentang hidup itu kita sudah bisa menjawabnya, maka akan sampailah kita mulai mencoba mengenal GUSTI ALLAH lewat pertanyaan siapa yang menghidupi dan memelihara hidup kita?

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa proses pencarian jati diri adalah proses untuk mendekatkan diri dengan GUSTI ALLAH. Pencarian jati diri juga merupakan upaya untuk mengenal keberadaan GUSTI ALLAH, maka akan tampak tanda-tandanya bagi manusia yang mencoba mengenalnya yaitu ketenangan dalam menghadapi hidup. Disamping itu, hati menjadi lebih tenteram dan mantap dalam menghadapi hidup. Ia tidak akan grusa-grusu.

Artinya, dalam menghadapi hidup itu, manusia yang sudah melakukan pencarian jati diri akan menyadari bahwa semua aspek kehidupan itu dibawah naungan GUSTI ALLAH. Bukankah seringkali manusia itu lupa tentang keberadaan GUSTI ALLAH. Jika berhasil dalam hidup, ia senantiasa mengatakan keberhasilan ini berkat ketekunan dan kerja kerasku selama ini!

Nah, salah satu cara untuk mengenal jati diri adalah dengan membedakan suara hati yaitu suara hati besar dan suara hati kecil. Kalau kita sering mendengarkan suara hati besar dan hati kecil, maka kita akan hafal dengan suara hati besar dan hati kecil tersebut. Setelah hafal, cobalah untuk hanya mendengarkan suara hati kecil Anda saja.

Pertanyaannya, mengapa kok hanya suara hati kecil yang didengarkan? Karena hati kecil yang biasa disebut dengan hati nurani itu senantiasa menyuarakan kebenaran. Sedangkan hati besar itu senantiasa menyuarakan kebohongan. Kalau kita sudah sering mendengarkan suara hati kecil, artinya kita senantiasa mendengarkan suara kebenaran hidup. Bukankah hidup itu memiliki arti Hamemayu Hayuning Bawono (Memperindah dan mempercantik Dunia).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar