Minggu, 18 Maret 2012

Membangun Keluarga Sejahtera


Membangun Keluarga Sejahtera
Haryono Suyono, KETUA YAYASAN DAMANDIRI
SUMBER : SUARA KARYA, 19 Maret 2012



Upaya pengentasan kemiskinan yang dijadikan prioritas prima di seluruh dunia tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Upaya ini perlu dijadikan gerakan masyarakat dengan dukungan dan komitmen tinggi dari pemerintah dan semua pemimpin bangsa. Upaya pengentasan kemiskinan bukan suatu model linier biasa, tetapi menyangkut budaya bangsa yang kompleks yang setiap komponennya saling terkait dan tidak mudah dipisah-pisahkan. Upaya ini tidak kalah serunya dibandingkan dengan upaya memperkenalkan budaya baru membentuk keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Pada tingkat awal pengenalan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera berjalan lamban dan hanya diikuti oleh lembaga terkait melalui pendekatan secara kaku. Pada pertengahan tahun 1970-an, pendekatannya diubah dan program ini diantar ke desa kepada tokoh dan lembaga masyarakat yang sepintas tidak ada hubungannya dengan masalah alat keluarga berencana (KB). Para kyai, tokoh ulama dan pemimpin non-formal diajak tampil dengan penuh kehormatan menjadi advokator dan motivator untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang hakikat keluarga sejahtera. Mereka tidak perlu berbicara tentang alat kontrasepsi.

Dengan gegap gempita, masyarakat makin sadar bahwa keluarga yang belum sejahtera bisa diubah secara mandiri tanpa harus menunggu instruksi. Pemerintah memberikan dukung-an fasilitasi teknis berupa tempat pelayanan dan informasi yang jujur tentang berbagai metoda untuk bisa dipergunakan melakukan perubahan struktur keluarga agar bahagia. Maka, terciptalah kerja sama dan kemitraan akrab antara pemerintah dan masyarakat luas untuk menyesuaikan budaya dan kebiasaan masyarakat tanpa membuat musuh di kalangan pemangku adat dan budaya bangsa. Kerja sama yang erat tercipta antara tokoh-tokoh masyarakat dengan petugas teknis yang menjadi aparat pemerintah.

Secara bijaksana, pemerintah tidak mencaci-maki mereka yang telanjur memiliki banyak anak dengan poster atau billboard besar yang menggambarkan keluarga sengsara atau miskin akibat banyak anak. Namun, pemerintah dengan program KB-nya justru menggelar poster berupa pasangan keluarga sejahtera yang tersenyum manis dengan dua orang anak.

Kemudian, untuk menyampaikan pesan dengan murah, pemerintah menciptakan uang dengan nilai lima rupiah lengkap bergambar keluarga sejahtera. Tanpa keluar uang sepeser pun, rakyat mengantongi simbul keluarga sejahtera melalui uang lima rupiahan yang pengadaannya dibayar sendiri oleh seluruh penduduk, termasuk penduduk miskin sekalipun.

Nyanyian sederhana yang mudah diingat serta yel-yel yang menggelitik diperkenalkan secara luas untuk merangsang penyesuaian budaya dan perubahan sosial yang diperlukan untuk mendukung cita-cita keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Dengan cara demikian simbul-simbul keluarga sejahtera sebagai cita-cita bersama menyebar luas hingga merangsang simpati penuh kasih sayang di kalangan masyarakat. Tidak ada keluarga yang tersinggung biarpun mempunyai anak banyak atau pernah berpikir tidak setuju terhadap gagasan membatasi jumlah anak di Indonesia.

Gagasan pengentasan kemiskinan yang dikembangkan melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Yahun 2010 sedang disebarluaskan oleh Yayasan Damadiri dengan pendekatan budaya yang penuh sopan-santun ke seluruh pelosok Tanah Air. Dalam Safari maraton tanpa kenal lelah, pengurus Yayasan yang umumnya tidak muda lagi, mengajak seluruh kalangan akademisi di perguruan tinggi mempersiapkan diri menjadi benteng perubahan sosial dengan kemampuan teknisnya yang memiliki keunggulan.

Mereka dibekali pengertian yang mendalam tentang sasaran dan target MDGs yang harus dicapai pada tahun 2015. Tidak satu pun dari kalangan perguruan tinggi, mulai dari rektor, dekan hingga pimpinan LPM menolak ajakan yang didasarkan pada kaidah ilmiah tersebut.

Pendekatan juga dilakukan kepada para alim ulama dengan mengembangkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat. Pendekatan ini pun mendapat sambutan yang gegap gempita karena sejarah masa lalu mengajarkan bahwa Nabi Muhammad SAW memulai perjuangan pembangunan umatnya melalui masjid. Pendekatan kepada para tokoh masyarakat untuk menjadi pemimpin kelompok Posdaya di tingkat pedesaan juga mendapat sambutan yang luar biasa. Mereka tidak diajak bersaing terhadap lurah atau kepala desa tetapi justru berdampingan dan menjadi penggerak non-formal yang cakupannya kecil tetapi dekat dengan masyarakat. Mereka menjadi pendamping dan pendukung kelompoknya menyegarkan modal sosial gotong-royong yang dewasa ini makin luntur gara-gara kehidupan yang cenderung indiviadualistik.

Upaya pengentasan kemiskinan yang tampaknya lamban ini dikembangkan bersamaan dengan upaya yang didukung oleh gerakan masyarakat dan upaya pengembangan ekonomi mikro dan kecil melalui dana yang disediakan oleh bank atau lembaga keuangan. Masyarakat yang tidak pernah mengenal ekonomi modern dengan dukungan bank, bukan disodori peraturan tetapi diperkenalkan kepada bank dengan langkah nyata lewat gerakan menabung dan kredit sederhana di bawah nilai dua juta rupiah. Nama programnya adalah Tabur Puja (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera), yang mengandung konotasi indah dan mampu memberi harapan.

Para gubernur, bupati/ walikota, camat dan kepala desa pun diharapkan aktif memfasilitasi dan komit mendukung ribuan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya ke desa-desa. Mudah-mudahan mereka sukses membentuk Posdaya dan mengisi kegiatan dengan delapan program aksi untuk menyelesaikan sasaran dan target MDGS. Pendekatan budaya insya Allah mampu membuahkan hasil gemilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar