Rabu, 15 Juni 2011

Hati-hati menentukan Arah Pintu Rumah

Astaga!Misteri - Penentuan arah menghadap rumah, bagi masyarakat Jawa, merupakan hal yang sangat penting dalam membangun suatu rumah tempat tinggal. Secara garis besar, arah menghadap rumah yaitu menghadap ke arah utara, timur, selatan, dan ke arah barat.

Seperti halnya bangsa Cina, orang Jawa percaya bahwa arah menghadap rumah memiliki pengaruh atau dapat membawa keberuntungan atau kesialan dalam hidupnya dan juga keluarganya.

Pada jaman dahulu dalam masyarakat Jawa hampir tidak dijumpai rumah menghadap ke barat dan demikian pula halnya yang menghadap ke arah timur. Rumah orang biasa (masyarakat umum, bukan bangsawan) pada umumnya menghadap ke arah utara atau ke selatan. Sedangkan arah menghadap ke timur khusus dipergunakan untuk keraton.

Setiap arah mata angin dipercayai ditunggu oleh dewa, dan oleh karena itu ada makna simbolis tertentu penentuan arah menghadap rumah berdasarkan empat mata angin.

Keempat arah mata angin yang dijaga oleh dewa tersebut adalah :

(1) timur ditunggui oleh Maha Dewa,

(2) barat ditunggui oleh Batara Yamadipati,

(3) utara ditunggui oleh Batara Wisnu, dan

(4) selatan ditunggui Batara Brahma

Dalam mitologi Jawa, Batara Yamadipati adalah dewa kematian. Sehingga bagi orang yang mempercayai, arah menghadap ke barat harus dihindari karena secara simbolik berarti sama dengan mengharap kematian.

Adapun cara menentukan arah menghadap rumah adalah dengan menjumlah neptu (hitungan) hari kelahiran dan pasaran orang yang akan membangun rumah.
Ketentuannya adalah sebagai berikut :

(1) jika jumlah neptunya 7, 8, 13, 18, arah rumah menghadap ke arah utara atau ke timur,

(2) jika jumlah neptunya 9, 14 arah rumah harus menghadap ke selatan atau ke timur,

(3) jika neptunya 10 arah rumah harus menghadap ke selatan atau barat,

(4) jika jumlah neptunya 11, 15, 16 arah rumah harus menghadap ke barat, dan

(5) jika jumlah neptunya 12, 17 arah rumah harus menghadap ke utara atau ke barat.

Neptu hari:

Ahad = 5, Senin = 4, Selasa = 3, Rabu = 7,

Kamis == 8, Jum'at = 6, Sabtu = 9,

Neptu pasaran:

Kliwon = 8, Legi = 5, Pahing = 9, Pon = 7, Wage = 4

Misalnya Anda lahir pada ahad pahing, maka jumlah neptu menjadi (ahad = 5) + (pahing = 9) = 14.

Berdasarkan penghitungan neptu tersebut maka Anda sebaiknya memiliki rumah menghadap arah selatan atau ke timur

Enter subhead content here


Kayu Miliki Sifat Layaknya Manusia
Astaga!Misteri - Seperti layaknya manusia, kayu pun memiliki jenis dan sifat tersendiri. Dari jenis dan sifat itulah bisa diketahui, kayu itu baik atau tidak. Pada tulisan ini akan dikupas tentang mengenali jenis kayu jati yang "baik".

Disebutkan dalam Ilmu Kalang, menurut kepercayaan Jawa, kayu jati mempunyai jenis dan sifat layaknya manusia. Ada yang jahat dan ada yang baik. Kayu yang mempunyai sifat baik akan mendatangkan ketentraman, kesejukan, rejeki, dan persaudaraan bagi sang pemilik rumah. Sedangkan kayu yang bersifat jahat, tidak baik, dipercaya bisa mendatangkan bencana, malapetaka, susah rejeki bagi penghuninya. Berikut adalah nama-nama jenis kayu jati beserta sifat dan pengaruhnya.

Uger-uger

Adalah kayu jati yang berasal dari batang pohon yang cabangnya rangkap. Seseorang yang memiliki kayu tersebut dipercaya akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Kayu jenis ini dipakai pada pintu rumah dan pintu pagar tembok tinggi.

Trajumas
Adalah kayu jati yang berasal dari sebuah pohon yang cabangnya tiga. Barang siapa memasang kayu semacam ini pada rumahnya, maka akan kebanjiran rezeki, dalam istilah Jawa disebut mbanyu mili. Kayu ini sangat cocok untuk kerangka bangunan yang besar yang letaknya di atas, yaitu molo, blander, pengeret dan lain sebagainya.

Pandawa

Adalah kayu jati yang berasal dari sebuah pohon jati yang bercabang lima. Istilah Pandawa diambil dari pewayangan, yaitu lima bersaudara ksatria Amarta yang sangat kuat rasa persaudaraannya. Sesuai namanya, kayu ini sifatnya kuat dan perkasa. Oleh sebab itu ia harus menjadi "penjaga" pendapa, terutama sebagai saka guru yaitu tiang utama.

Mulo

Adalah kayu jati yang berasal dari pohon yang sekelilingnya lembab dikelilingi air. Kayu ini akan memberikan perasaan segar kepada pemiliknya, permintaanya banyak terkabul. Kayu seperti ini juga bisa digunakan untuk saka guru atau tiang utama tetapi mutunya masih di bawah kayu Pandawa.

Tunjung

Adalah kayu jati yang diambilkan dari pohon jati yang menjadi sarang burung yang besar seperti burung elang, dan lain-lainnya. Barangsiapa mempergunakan kayu jenis ini, maka si pemilik atau penghuni bangunan akan memperoleh status sosial yang lebih tinggi. Sebenarnya kayu ini lebih sesuai bila untuk bangunan kandang kuda, gedongan atau istal, atau kandang ternak jenis lainnya.

Gendam

Adalah kayu jati yang pohonnya ditempati burung-burung kecil. Sesudah kayu tersebut dijadikan bangunan perumahan, dipercaya pemiliknya akan mempunyai banyak kawan yang sayang kepadanya. Jika banyak kawan, secara otomatis rezeki juga akan mengalir lancar. Sebaiknya kayu jenis ini untuk membuat kandang kuda.

Munggang

Adalah kayu jati yang tumbuh di atas tanah yang tinggi (gumuk atau puntuk). Watak atau sifat kayu jenis ini tidak berbeda dengan kayu Tunjung dan Gendam, dan tepat sekali bila dipakai untuk membuat kerangka bangunan pintu gerbang (regol), bangunan untuk istirahat (gerdu), pesanggrahan maupun bangunan-bangunan sejenis, bukan bangunan untuk tempat tinggal tetap seperti dalem atau omah jero.

Gendong

Adalah kayu jati yang tumbuh sebagai tunas dari sebuah pohon. Kayu jenis ini sangat baik dipakai untuk kerangka bangunan.

Gedeg
Adalah sejenis kayu jati yang mempunyai tonjolan. Sifat dan fungsinya tidak berbeda dengan gendong.

Gadug

Adalah kayu jati yang tonjolannya seperti batu giling (gandik atau pipisan). Si pemilik atau penghuni rumah yang diberi kayu semacam ini pada suatu ketika akan mempunyai banyak hewan-hewan piaraan serta hidup selamat sejahtera. Kayu jenis ini cocok untuk bangunan kandang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar